Harga Gabah Anjlok, Pemprov Sumsel Minta Petani Gak Jual Semua Panen

Harga Gabah Anjlok, Pemprov Sumsel Minta Petani Gak Jual Semua Panen Mentan Syahrul Yasin Limpo saat hadiri panen raya di OKU Timur, Sumsel. Foto: Instagram @syasinlimpo

Jakarta  - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyarankan petani untuk menunda jual produksi gabah mereka karena saat ini harganya sedang anjlok.


Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Sumsel, Raden Bambang Pramono bilang, kalo pun terpaksa menjual gabah, petani disarankan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara waktu aja.


"Jual dulu saja sesuai kebutuhan, tapi untuk hasil panen seluruhnya tahan dulu. Sisanya nanti bisa dijual sampai HPP kembali naik," ujar Bambang di Palembang, seperti dikutip dari Antara Senin (5/4).


Saat ini, harga gabah anjlok, jauh dari harga pembelian pemerintah (HPP). Salah satu penyebabnya karena terjadi peningkatan produksi, sehingga pemerintah kewalahan untuk menyerap beras petani.  


Terkait saran ini, pemprov akan menggerakkan 1.000 penyuluh pertanian untuk menginformasikan dan mengedukasi petani agar bisa menahan produksi gabah mereka.  


Bambang berkata, pemerintah terus berupaya agar harga gabah ini kembali stabil, di antaranya dengan memperbaiki tata kelola pascapanen.  


Berdasarkan angka statistik 2020, produksi gabah Sumsel mencapai 2,71 juta ton atau setara dengan 1,47 ton beras. Sedangkan untuk konsumsi per tahun dengan jumlah penduduk 8,24 juta jiwa, maka hanya membutuhkan 850 ribu ton beras per tahun, atau masih surplus di kisaran 900 ribu ton beras.  


Proyeksi panen hingga April 2021 diperkirakan mencapai 774 ribu ton GKG atau setara 400 ribu ton beras.  


"Tapi yang jelas, Sumsel tertinggi ketiga se-Indonesia untuk serapan gabah, dan pada 22 Maret itu, serapan Bulog sudah mencapai 15 ribu ton beras," kata Bambang.


Ilham, petani Desa Muara Dunia, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir mengeluhkan anjloknya harga gabah pada panen musim tanam pertama tahun ini. Biasanya, harga gabah Rp 4.200 - Rp 4.500 per kg, kini hanya Rp 3.500 per kg. 


"Memang sedapat mungkin kami menahan untuk menjual, tapi kebutuhan hidup juga tidak bisa menunggu. Jadi mau bagaimana lagi, saya pun sudah menjual semua hasil produksi untuk modal musim tanam kedua," imbuh Ilham. (rfq)


Gabah sumsel sumatera selatan