Kementan Minta Petani Terapkan Sistem Jajar Legowo

Kementan Minta Petani Terapkan Sistem Jajar Legowo Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Foto: Instagram @syasinlimpo.

Jakarta - Kementan terus berupaya buat ningkatin hasil panen para petani. Kali ini, usulan dengan Jajar Legowo (Jarwo), sistem untuk mengatur jarak tanam padi, yang dirasa mampu membuka cakrawala petani di lahan irigasi pada 74 kabupaten di 16 provinsi.


Gak cuma itu, Jajar Legowo juga bisa membuka cakrawala petani di populasi tanaman lebih 16.000 per hektar, yang menerapkan setiap empat baris tanaman diselingi satu barisan kosong.


Pertanian didukung Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) menjadi fokus Sekolah Lapang (SL) yang digelar oleh IPDMIP.  


Dedi Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian (BPPSDMP Kementan) mengingatkan, peningkatan produktivitas tanaman padi adalah hal yang sangat penting saat ini.  


“Tuntutan pertanian saat ini adalah meningkatkan produktivitas dan meminimalisir losses seminimal mungkin. Salah satu upayanya dengan Sekolah Lapang IPDMIP,” ujar Dedi Nursyamsi, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (22/3).


Para petani, diajak memahami dan praktik Jarwo seperti dilakukan pada kelompok tani (Poktan) Tani Harapan I Desa Pajangan, pada kawasan irigasi Kwanon di Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan di Provinsi Jawa Timur.  


Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bilang, peningkatan produktivitas harus dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan.


"Dalam pandemi Covid-19, kita dituntut untuk mampu menjaga ketahanan pangan, juga mewujudkan kemandirian pangan. Hal ini bisa direalisasikan jika kita mampu meningkatkan produktivitas," kata Mentan SYL.  


Sebagaimana diketahui, Jarwo 4:1 menerapkan setiap empat baris tanaman, diselingi satu barisan kosong. Tipe ini memiliki dua baris tanaman pinggir, dan dua baris tanaman tengah dengan jarak tanam 20 cm.


Jarwo 4:1 yang direkomendasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan (Balitbangtan) mengatur jarak tanam agar mampu menampung populasi tanaman lebih banyak, dan tanaman pinggir lebih banyak pula. Jarak tanam dapat dimodifikasi sesuai kondisi dan tingkat kesuburan lahan serta varietas yang digunakan. 


Di lahan subur, jarak tanam bisa lebih lebar. Sementara pada lahan kurang subur, jarak tanam bisa dikurangi.


Jarak tanam disesuaikan varietas padi yang digunakan. Misalnya, tanaman padi yang tipe penampilannya lebat dan tinggi, jarak tanam agak diperlebar. Begitu pula sebaliknya, untuk varietas padi yang kurang lebat, jarak tanamnya dikurangi.   


Jarwo mengatur jarak tanam, dalam satu petak lahan. Ada beberapa barisan kosong dengan jarak lebih lebar, ketimbang jarak antar barisan tanaman. Singkatnya, Jarwo adalah cara menanam padi dengan pola beberapa barisan tanaman, diselingi satu barisan kosong.   


Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan kosong, dipindah sebagai tanaman sisipan di dalam barisan, yang direkomendasi paket Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). 


Hal itu dapat memudahkan pemeliharaan, pemupukan, penyemprotan, dan pengawasan lantaran dilakukan melalui barisan kosong, sehingga tanaman gak terganggu.  


Adanya barisan kosong, lingkungan relatif lebih terbuka sehingga hama terutama tikus, gak suka tempat tersebut. Jarwo juga bisa mengurangi kelembaban sehingga perkembangan penyakit bisa ditekan.


Jarwo 4:1 juga menghemat penggunaan pupuk, karena lebih terkonsentrasi pada tanaman dalam barisan. Jumlah tanaman pinggir lebih banyak, sehingga kualitas pertumbuhan dan jumlah produksi lebih baik. 


Tanaman di barisan pinggir, punya ruang numbuh lebih leluasa, dan mendapat intensitas sinar matahari lebih banyak, yang akan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi. (rfq)


pertanian kementan menteri pertanian syahrul yasin limpo