Lia Dahlia, Petani Milenial yang Sukses Kelola Hidroponik

Lia Dahlia, Petani Milenial yang Sukses Kelola Hidroponik Lia Dahlia, petani milenial yang sukses mengelola hidroponik. Foto: @kementerianpertanian.

Jakarta - Bingung, nge-blank, dan masih minimnya pengetahuan soal mengelola tanaman hidroponik, sempat dirasakan perempuan bernama Lia Dahlia. Ya, setelah lulus dari bangku kuliah, Lia dan beberapa temannya sempat bingung ketika diminta kelola Greenhouse Aquaponik yang gak keurus.

Lia mengaku belum punya pengalaman dalam mengelola tanaman hidroponik. Bahkan, dia sempat cari 'guru' yang bisa kasih pengetahuan soal hidroponik.

"Untuk pengelolaan awal-awal pun kita gak tahu, ini harus gimana, ini apa. Untuk semacam rockwool aja kita gak tahu. 'Ini apa, kok kayak busa?' Ternyata itu rockwool, untuk si media tanamnya. Pokoknya bener-bener apa ya, kita bener-bener mulai dari nol," ucap Lia dikutip dari kanal YouTube Kementerian Pertanian RI.

Perempuan lulusan Universitas Budi Luhur ini bilang, dia terus belajar dan mencari tahu hal-hal terkait mengelola hidroponik.

"Setelah kita olah dan pahami, akhirnya kita diberi kepercayaan, untuk mengelola greenhouse ini, dengan luas 20m x 20m, 400 meter (persegi). Nah, dari situ, kita dipercaya untuk kelola ini sampai sekarang," tuturnya.

Lia yang kini fokus jadi petani milenial berucap, kalo nanam melalui sistem hidroponik, lebih banyak keunggulannya. Sebut saja, kualitas tanaman yang jauh lebih baik dari pada sistem menanam biasa.

"Untuk quality, lebih bagus hidroponik. Mulai dari penanaman bisa lebih singkat, dibanding yang konvensional. Untuk rasa juga udah pasti beda, untuk kualitas si daun-daunnya itu, kalo yang biasa kan ada yang bolong lah, bekas ulat, atau rusak," tutur Lia.

"Tapi kalo menanam dengan sistem hidroponik, daunnya bersih, bisa langsung layak makan, lebih cepat numbuhnya. Contoh kayak kangung atau bayam, 15 hari udah langsung panen," sambungnya.

Selain fokus melakukan penanaman hidroponik, Lia Dahlia juga udah mulai melakukan pelatihan bagi mereka yang ingin mengenal, dan mencoba melakukan hidroponik di rumahnya.

"Mulai dari SD, SMP, SMA, Universitas, atau kantor, kita menerima untuk pelatihan hidroponik atau organik. Semenjak wabah corona ini, lebih banyak hidroponik. Karena mungkin kalo belajar hidroponik bisa diterapkan di rumah, di ruangan kecil, gak harus besar-besar, yang penting ada tempat dan kena matahari. Karena Hidropoik sendiri, butuh matahari yang maksimal," ujarnya.

Kata Lia, kalo mau melakukan hidroponik, sebaiknya dengan menggunakan sistem Nutrient Film Technique (NFT). NFT merupakan cara budidaya tanaman dengan akar tanaman yang tumbuh pada lapisan nutrisi dangkal, dan tersirkulasi. Sehingga, tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen.

Lia pun selama ini melakukan hidroponik di Green House Blu-Farm, di kawasan Bogor, Jawa Barat, dengan sistem NFT.

"Kita biasa menggunakan sistem NFT itu untuk menanam sawi-sawian, seperti caisim, pakcoy. Kita juga menanam kale, dan sekarang juga kita sedang mencoba sistem NFT untuk menanam melon dan tomat ceri," tuturnya.

Selain soal media tanaman, hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan hidroponik juga greenhouse yang memiliki teknologi mendukung.

"Living house yang kami gunakan sekarang ini kan,kayak pakai kipas anginya otomatis. Kita di sini ada empat kipas. Empat kipas nyala ketika suhu di atas 30 derajat. Ketika udah turun di 29 atau 28 (derajat), maka akan mati 1. Seterusnya sampe suhu 24-25 derajat, baru mereka akan mati semua," ucap Lia menjelaskan.

"Kemudian kita juga ada sistem kelembaban udara di greenhouse. kita juga menggunakan sistem cooling pad, untuk membuat udara di greenhouse itu bisa tetap dingin, sejuk, jadi tidak panas," sambungnya.

Kini, greenhouse yang dikelolanya pun sudah semakin numbuh. Gak cuma melayani pesanan sayuran untuk dikirim ke pasar swalayan atau warga sekitar, tapi dia juga melayani pesanan tanaman untuk acara nikah.

"Kita juga menerima untuk pembuatan souvenir pernikahan, kayak paket sayur. Atau untuk packing-packing-an yang sesuai keinginan customer," ucapnya.

Lia juga bersyukur, meski modal awal untuk mendirikan greenhouse ini sampai ratusan juta, tapi sekarang sudah mulai meraup untung, dan bisa membuka lahan baru lainnya.

"Modal awal sendiri untuk greenhouse ini Rp 500 juta. Untuk modal udah kembali, kita tinggal memperluas lahan untuk bisa merekrut orang-orang di sekitar sini aja. Karena di sini tuh, ketika datang wabah corona ini, kriminalitas di sini tinggi. Makanya kita coba buka lahan pekerjaan, supaya mereka punya pekerjaan dan bisa membantu menurunkan angka kriminalitas," imbuh Lia Dahlia. (rfq)

hidroponik kementan petani milenial