Tergiur Peroleh Omzet Puluhan Juta, Petani Lebak Beralih ke Tanaman Porang

Tergiur Peroleh Omzet Puluhan Juta, Petani Lebak Beralih ke Tanaman Porang Tanaman Porang. Foto: Antara.

Banten - Kepopuleran tanaman porang sejak pandemi Covid-19 di tahun 2020, turut dimanfaatkan para petani di Kabupaten Lebak, Banten. Apalagi, nilai jual yang cukup besar, bikin para petani beralih memanfaatkan budidaya dari komoditas umbi-umbian tersebut.

Seorang petani bernama Wawan, yang berada di Blok Narimbang, Rangkasbitung bilang, kalo pemanfaatan tamanan porang bisa mendongkrak ekonomi keluarganya.

"Kami yakin, dengan tingginya permintaan ekspor dipastikan menguntungkan dari tanaman porang itu," ujar Wawan, seperti dikutip dari merdeka.com, Selasa (23/2).

Menurut petani berusia 61 tahun ini, pengembangan tanaman porang di Lebak, punya keuntungan yang cukup menjanjikan, lho. Apalagi, tanaman porang punya peminat yang tinggi di pasar ekspor.

Gak cuma itu, umbi dari tanaman porang ini juga bisa diolah jadi sejenis tepung, untuk bahan baku kosmetik, obat, hingga bahan pembuat ramen. Nah, beberapa negara di Asia, juga udah jadi pelanggan olahan porang. Mulai dari negara Jepang, China, Taiwan, dan Korea Selatan.

Selama ini, Wawan udah terbiasa untuk bawa langsung umbi-umbian tersebut ke pemasok yang ada di Jakarta.

Sementara itu, para petani di Kabupaten Lebak biasanya akan panen umbi porang setelah dua tahun, dengan rata-rata produktivitas sebanyak 8 ton per hektar. Saat ini, harga porang dijual Rp 250 ribu/kg untuk dibudidayakan benih oleh para petani.

Apabila, porang itu sebanyak 20 kilogram/hektar dengan harga Rp 250 ribu, maka dapat dipastikan petani bisa menghasilkan Rp 5juta/hektar.

"Jika harga umbi porang itu Rp 10 ribu/kg, maka pendapatan petani mencapai Rp 80 juta dengan biaya produksi sekitar Rp 20 juta/hektar," kata Wawan menjelaskan.

Hal senada juga disampaikan Iwan, petani yang ikut kembangin budidaya tanaman porang. Menurut Iwan, pengelolaan porang tak bisa dilakukan oleh satu orang. Sehingga, peluang itu juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru.

"Kami mengelola tanaman porang itu tentu bisa membantu ibu-ibu di sini bisa bekerja. Sebab, jika dikelola sendiri sangat kerepotan," ucap Iwan.

Petani berusia 40 tahun ini juga bilang, tanaman porang itu relatif besar nilai investasinya hingga Rp 20-25 juta/hektar, dan perawatan serta pemeliharaannya juga harus baik. Saat ini, proses penanaman porang sudah berjalan sekitar 3 bulan, terhitung sejak November 2020.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, berucap kalo pemerintah daerah terus mendorong para petani agar dapat terus kembangin tanaman porang. Hal itu tentu akan membantu meningkatkan pendapatan ekonomi para petani, apalagi di masa pandemi COVID-19 ini.

"Kami berharap petani bisa mengembangkan budidaya tanaman porang menjadikan andalan ekonomi, selain pertanian pangan itu," imbuh Rahmat. (rfq)

pertanian petani tanaman porang kabupaten lebak banten